Selasa, 29 Oktober 2019

Instalasi Penyalur Petir

SAFETY ISSUE
-----------------------
Peraturan menteri tenaga kerja
NO:PER.02/MEN/1989
Tentang pengawasan instalasi penyalur petir.

Pengertian instalasi penangkal petir pada hakekatnya adalah instalasi yang dipasang dengan maksud untuk mencegah, menghindari dan mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh kejadian sambaran petir. dengan demikian pengertian “Penangkal petir” adalah Penangkal bahaya sambaran petir.
Parameter arus petir yang menibulkan bahaya adalah :
- Arus petir (I)
- Kecuraman arus petir (di/dt)
- Muatan arus petir (Q)
- Integral kuadrat arus impulse petir
Ada 4 tipe sambaran petir :
1. Awan ke tanah
2. Awan ke udara
3. Awan dengan awan
4. Didalam awan itu sendiri.

INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR         

 Tinggi bangunan
            s/d       6 m           0
                        12 m          2
                        17 m          3
                        25 m          4
                        35 m          5
                        50 m          6
                        70 m          7
                        100 m        8
                        140 m        9
                        200 m       10

PENERIMA (AIR TERMINAL)

Dipasang pada tempat yang akan tersambar.
Daerah terlindung
Tinggi lebih dari 15 cm dari sekitar
Jumlah dan jarak harus diatur (daerah perlindungan 112 derajat)
Penerima dapat berupa :
Logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga
hiasan,-hiasan pada atap, tiang-tiang, cerobong logam yang disambung dengan instalasi penyalur petir.
Atap –atap dari logam yang disambung secara elekteris.

Semoga bermanfaat..
Safety first ⛑

Minggu, 29 September 2019

Sarung tangan

SAFETY ISSUE  ALAT PELINDUNG DIRI ( SARUNG TANGAN )

Tujuan utama kita menggunakan sarung tangan kerja adalah untuk  melindungi tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi tertentu yg berpotensi mengakibatkan cedera tangan.
Sarung tangan kerja/pelindung/Safety glover merupakan salah satu Alat Pelindung Diri (APD)  untuk melindungi seluruh bagian tangan hingga ke jari jari selama melakukan pekerjaan tertentu.
Jenis dan bahan sarung tangan kerja/pelindung antara lain :
1.Bahan kulit kanvas atau jaring logam ( Leather Canvas Or Mesh Metal Glover).berfungsi melindungi tangan dari permukaan kasar,perlindungan terhadap luka dan luka bakar serta melindungi suhu yang extrim (panas/dingin).
2. Bahan katun dan sejenisnya (Fabric And Coated  Fabric Glover). Berfungsi untuk melindungi tangan dari benda atau permukaan yang tajam bergelombang dan kotor.
3. Bahan karet khusus yang tahan akan bahan kimia/cairan (Chemical And Liquid Resistand Glover. Adalah sarung tangan karet seperti butyl.latex.vinyl.neoprene dan nitryle berfungsi untuk melindungi tangan dari bahan kimia atau biologis yang beracun dan berbahaya.
4.  Bahan karet (Rubber Glover Or Insulated Rubber Glover. berfungsi untuk melindungi tangan saat sedang berhadapan dengan arus listrik tegangan rendah maupun tegangan tinggi.
Semoga bermanfaat.
Safety first πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Bricade tape - pita warna

BARICADE TAPE adalah pita berwarna cerah (sering kali menggunakan pola dua warna) yang digunakan untuk memperingatkan orang yang lewat daerah tersebut bahwa sedang ada sumber bahaya yang sedang di isolasi. Baricade tape bertindak sebagai penghalang untuk mencegah masuk nya / tidak disengaja masuk di daerah yang sedang terdapat bahaya.
# Barikade tape yang ditentukan oleh OSHA
1. Merah / putih untuk Peralatan Pencegahan dan Perlindungan Kebakaran.
2. Hitam / putih untuk Penataan Rumah Tangga dan Lorong
3. Magenta / kuning untuk Bahaya Radiasi
4. Hijau / putih untuk Keselamatan dan Pertolongan Pertama
5. Biru / putih untuk Mesin Rusak
6. Oranye / putih untuk Peringatan Lalu Lintas dan Perhatian
7. Hitam / kuning untuk Bahaya Fisik
# Barikade tape menurut ANSI
1. Kuning-hitam berfungsi sebagai AWAS dan BAHAYA POTENSIAL dari penggalian sedalam kurang dari 1,2 meter
2. Merah menunjukkan BAHAYA Bahaya dan SERIUS dari pekerjaan overhead, komponen listrik hidup, perancah sedang dibangun
3. Ungu menunjukkan Bahaya RADIASI

Kamis, 01 Agustus 2019

6 mistake hse manager

*SIX MISTAKES HSE MANAGER MAKE WITH OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY*

by Christel Fouche

Management is nothing more than motivating other people. Lee Iacocca
A manager is not without fault and is not a perfect species, and despite our best intentions we often also make mistakes and slip-ups that can have a big impact on what our team thinks about how much we care about occupational health and safety. Ask yourself if you are or have been making any of the six fundamental mistakes listed below when it comes to setting an occupational health and safe example to those around you?
Practice Golden-Rule 1 of Management in everything you do. Manage others the way you would like to be managed.

*Not Walking the Talk*

Actions really do speak louder than words when it comes to occupational health and safety management. All the slogans, posters and tool box talks in the world won’t make a difference if employees see managers acting in a different way to what they are saying. By always being a model of safe work and rule compliance, a manager can have more of an influence on his team than he ever could through “health and safety moments” and “monthly health and safety topics”. People naturally look to their manager for direction, and the aspects they look at most are his/her behaviours. As a manager, you must go above and beyond what is required by your site health and safety systems, and demonstrate to everyone that keeping people healthy and safe is at the top of your priority list.


*Turning a Blind Eye*

Health and safety rules and systems apply to everyone, all the time! When we ignore minor breaches or small unsafe acts and unsafe conditions, we are effectively condoning and encouraging those actions. By our own lack of action we are telling our team that it’s ok not to follow certain rules or procedures. You can’t turn a blind eye, even when the work is urgent, out of sight, or on a back shift. Unacceptable behaviours are best changed early while they are still small.

*Not Giving Enough Positive Feedback*

While it is important to let people know if they are not working healthy or safely or following the correct procedures, it is also important to give people positive feedbackwhen you find them working healthy or safely or doing things that make the workplace better. When was the last time that you have given positive feedback to any of your employees? Did you notice an improvement in the attitude and production output of this individual? We tend to emphasize the negative more than the positive with disastrous consequences.  If we want the morale of the workforce to improve we only need to start paying compliments where they are due and the culture will automatically improve towards a better and more positive health and safety climate.
 

*Not Buying into Health and Safety Systems*

As a manager in the operation, you need to buy into health and safety systems, even if you don’t like them or don’t agree with them. Any feedback you have about the systems and why they won’t work needs to only go up a level – to your boss and your own team of peers. When it comes to the message you send to the team that works for you or anyone at the front line, you need to be a supporter. As a team leader you are the company’s representative in your team. And for better or worse they’ve decided to implement this system, so it’s up to you to support it publically. A team consist of the manager AND his/her workforce – not the one or the other – BOTH needs to be committed to make it work and achieve the objectives! One person not buying into the management system can cause the entire team to fail.


*Forgetting the Importance of Habits*

Habits are what save us when our mind is not consciously on the job. Many of the health and safety systems we use (such as Take-5s, prestart talks, and health and safety observations) are aimed at creating habits in people’s minds so that they are constantly aware of hazards in the work environment, and can react when they see something that is about to hurt them. Each little action and health and safety discussion might not prevent an incident itself, but they all add together to create valuable health and safety habits. Do not think that you are repeating this training or talk for the millionth time and that you are wasting time and money. When the crisis hits it will probably be these repetitive sessions that will prevent great harm or loss.


*The Wrong Intentions for Health and Safety Observations*

When you are going to do a health and safety observation, get your intentions right. Your aim when observing people working should be to find ways to give them constructive feedback which keeps them on their toes, positive and challenges them in their work. We want to challenge/test people to make sure they know what they are doing and how to do it healthy and safely. We are not trying to catch people doing something wrong – we are not implementing fault-finding, BUT fact-finding!

The way you see them is the way you treat them and the way you treat them is the way they often become Zig Ziglar

To summarize: as a manager in the occupational health and safety discipline you have a tremendous responsibility to ensure that the people reporting to you do so because you have bought into health and safety as a way of life BUT also because you have a moral and legal responsibility towards these workers.
_Are you setting the correct example as their manager?_

Kamis, 25 Juli 2019

21 tugas fan tanggung jawa HSE Manager

Setiap HSE Manager  atau manajer Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus tahu mengenai tugas, tanggung jawab yang dijalankannya. Dengan begitu diharapkan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja dapat terkontrol. Sehingga tujuan untuk meminimalkan kecelakaan kerja bisa tercapai.
Perusahaan yang memiliki manajer K3 juga perlu diapresiasi. Sebab ini langkah nyata untuk membuat penerapan program K3 bisa lebih efektif. Berikut ini penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab HSE manager, yaitu:

  1. HSE Manager harus memastikan bahwa perusahaan secara efektif melaksanakan program K3. Karena itulah, dalam prakteknya, manajer harus mengecek prinsip plan, do, check, dan act berjalan secara efektif. Selain itu, manajer juga harus mengintegrasikan prinsip K3 ini ke dalam praktek manajemen standar perusahaan.
  2. Tujuan utama pelaksanaan semua program K3 dalam perushaan adalah untuk memastikan bahwa sistem K3 bekerja dengan baik. Sehingga kerugian yang diakibatkan kecelakaan kerja dapat dihindari.
  3. HSE Manager bukan hanya memastikan kontrol yang tepat untuk tindakan pencegahan kecelakaan di tempat kerja, namun juga mengeluarkan kebijakan yang tepat, proses yang efektif, orang yang kompeten, budaya kerja yang benar. Sehingga semuanya berkontribusi dalam penciptaan lingkungan kerja yang aman.
  4. Untuk mengelola program K3 secara efektif, manajer harus melibatkan semua unsur dalam perusahaan. Penting diingat, bahwa kesuksesan pelaksanaan program K3 ini hanya dapat dilakukan bersama semua orang. Melibatkannya secara efektif akan membuat proses pelaksanaannya menjadi lebih dinamis dan konstruktif.
  5. Mematuhi hukum penting, namun tetap lebih dari itu program K3 perlu dilihat sebagai bagian kinerja bisnis utama, bukan hanya tambahan atau sekedar mematuhi peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Untuk itu, tugas HSE manajer serta manajer lainnya perlu mengelolanya seperti hasil bisnis lainnya, dengan melakukan langkah-langkah yang mendukung peningkatan kinerja, dengan menciptakan
  • sistem
  • budaya
  • praktek kerja yang aman
  • evaluasi proses K3
  1. HSE Manager perlu melakukan analisa resiko kerja dalam perusahaan. Dengan memetakan:
  • Apa saja potensi berbahaya dalam perusahaan?
  • Siapa saja yang paling rentan mengalami masalah kesehatan dan kecelakaan kerja?
  • Bagaimana proses untuk mengelola resiko itu?
Semua itu harus tertanam dalam organisasi dan bukan dianggap sebagai hambatan.
  1. Karyawan merupakan aset terbesar perusahaan. Untuk itu, manajer perlu mendorong perilaku kerja yang sesuai K3, bukan hanya di tempat kerja, tapi juga di jalan, rumah, dan ketika melakukan semua aktivitas.
  2. Direksi dan tim manajemen harus memastikan bahwa setiap orang dalam perusahaan harus paham mengenai aturan K3 yang ada. Selain itu perlu upaya untuk meningkatkan kesadaran akan K3 ini.
  3. Perusahaan harus mengembangkan sistem pelaporan dan investigasi terkait K3. Dengan begitu, perusahaan bisa bertindak secara profesional untuk mengetahui apakah program K3 yang dijalankan sudah benar.
  4. Semua direksi dan manajer harus memimpin penerapan K3. Dengan begitu mereka bisa menjadi panutan bagi para karyawan bagaimana bekerja secara aman.
  5. HSE Manager harus meyakinkan bahwa penerapan K3 itu sangat penting dan punya dampak langsung terhadap perusahaan. Yaitu, bisnis dapat berjalan dengan baik yang pada akhirnya juga dapat emningkatkan keuntungan perusahaan.
  6. Perusahaan perlu memberi penghargaan atas keberhasilan program K3. Caranya, seperti dengan memberikan award misalnya pengugerahaan karyawan K3 teladan.
  7. HSE Manager bertugas membuat program kerja K3 serta rencana penerapannya
  8. Program SMK3 yang sudah dibuat harus dipastikan berjalan dengan baik. Selain itu, manajer K3 juga harus mendokumentasikannya.
  9. HSE Manager harus membuat laporan dan menganalisis data statistik kecelakaan kerja.
  10. HSE Manager harus melakukan peninjauan resiko kerja terhadap semua unsur dan tingkatan.
  11. Dalam setiap kesempatan, manajer K3 harus mempromosikan program K3 kepada karyawan.
  12. HSE Manager harus memastikan bahwa peralatan kerja, tenaga kerja, kesehatan tenaga kerja dan lingkungan kerja sudah dilakukan pemeriksaan sebelum digunakan.
  13. HSE Manager perlu melaksanakan pelatihan keselamatan kerja untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran karyawan.
  14. HSE Manager harus mampu menangani kecelakaan kerja dan melakukan penyelidikan penyebabnya. Sehingga untuk berikutnya bisa dilakukan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak perlu berulang.
  15. HSE Manager perlu memastikan tenaga kerja bekerja sesuai SOP yang ada. Adanya SOP ini merupakan bagian dari penciptaaan proses kerja yang aman.
Penting dipahami bahwa program K3 merupakan tanggung jawab semua pihak. Dengan begitu, meskipun ada manajer K3, namun semua unsur dalam perusahaan, seperti karyawan, supervisor, dan manajer lainnya ikut berkontribusi demi tercapainya kesuksesan program. Sehingga karyawan yang sehat dan berada dalam lingkungan kerja yang aman seperti keinginan semua dapat tercapai.

Senin, 01 Juli 2019

7 Realitas Karier yang perlu kita antisipasi dan berdamai dengan diri

7 Realitas Karier yang perlu kita antisipasi dan berdamai dengan diri


Susah kerja di usia semakin  tua :
1. Menjadi tua itu pasti
2. Regenerasi adalah kewajaran. Semua akan tergantikan
3. Efisiensi adalah tuntutan zaman
4. Kehilangan pekerjaan bisa terjadi pada siapapun, bahkan yg berprestasi
5. Sekarang bukan zaman Baby Boomer dan Generasi X Awal, tingkatan karir tidak berdasarkan otomatis berapa usia anda. serba tidak menentu, tidak kondusif
6. Karir tidak menjadi seharusnya ideal sesuai umur, susah diprediksi, tidak berlaku konvensional
7. Perangkat Teknologi dan & Software dakan menggantikan manusia yg tua dan muda. Antisipasi  dengan mencari keahlian yg tidak tergantikan.

Jumat, 28 Juni 2019

Gas Detector

GAS DETECTOR
( ALAT PENDETEKSI GAS )
Gas Detector ( Alat Pendeteksi Gas )

Gas Detector ( Alat Pendeteksi Gas ) – Dalam beberapa bencana terkait industri yang terjadi dewasa ini, kebocoran gas merupakan salah satu penyebab kerugian paling parah karena sifatnya yang berbahaya bagi keselamatan manusia. Kurangnya peringatan dini dari segi kesigapan dan alat berpotensi membuat hal-hal fatal terjadi. Untuk itulah, diperlukan sebuah gas detector sebagai bagian dari sistem keamanan.
Pengertian Gas Detector
Gas Detector merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi (mengetahui) keberadaan gas. Umumnya, alat ini digunakan di tempat yang rawan terjadi kebocoran gas, misalnya di pabrik, lokasi pertambangan, dan kilang minyak.

Dalam konteks pencegahan dampak buruk kebocoran gas, gas detector dapat berfungsi melalui dua cara. Pertama, gas detector dipasang terhubung dengan control system sehingga mesin atau alat tertentu langsung berhenti berfungsi secara otomatis sesaat setelah gas detector mendeteksi terjadinya kebocoran gas. Kedua, gas detector dapat pula memberikan tanda peringatan berupa bunyi alarm atau lampu yang menyala pada saat kebocoran gas terjadi sehingga orang yang berada di area tersebut mendapatkan peringatan untuk segera menyelamatkan diri.

Gas detector sangatlah penting karena banyak gas kimia beracun yang mungkin menyatu dengan udara dan membahayakan keselamatan manusia, terlebih di tempat yang terekspos bahan-bahan kimia. Gas detector dapat digunakan untuk mendeteksi sekurang-kurangnya tiga hal: gas yang mudah menyulut api, gas beracun, dan penipisan oksigen.

Contoh gas – gas atau uap di udara yang di ukur :

1. Hidrokarbon.
2. Karbon monoksida (CO),
3. Karbon dioksda (C02),
4. Hidrogen Sulfida (H2S), dan
5. Oksigen (02).

Pemilihan Gas Detector yang tepat adalah :

1. Sesuai bahan yang akan diukur,
2. Etektif dan efisien,
3. Tingkat ketelitian yang tinggi.
4. Mudah dioperasikan,
5. Mudah dikalibrasi, dan
6. Suku cadang mudah di dapat.

Jenis Gas Detector terdiri dari :

1. Combutible 1 Flammable Gas Detector (Rxplosimeter)
2. Toxic Gas Detector
3. Oxygen Analyzer
4 CombInation Gas Detector

Deteksi Gas Mudah Terbakar (Flammable Gas Detector)

1. Flash Point. merupakan temperatur minimum dan suatu cairan yang membentuk campuran yang dapat terbakar. Adanya sumber api akan terjadi penyalaan sesaat
2. Auto Ignition Temperature, merupakan temperatur minimum suatu bahan dapat terbakar tanpa adanya sumber api.


Flammability Range

1. Explosive Limit (Flammability Range). adalah konsentrasi uap bahan di udara yang dapat terjadi kebakaran dengan adanya sumber api
2 Lower Explosive Limit (LEL), adalah konsentrasi uap di udara yang diperlukan untuk yang diperlukan untuk menjadikan kebakaran
3. Upper Exploswe Limit (UEL). adalah konsentrasi maksimum uap di udara dapat terbakar. Diatas konsentarsi maksimum api akan padam.

Explosimeter (Combustible / Flammable Gas Detector)

ALat yang digunakan untuk rnendeteksi dan mengukur kandungan gas atau uap suatu zat yang mudah menyala mudah terbakar di udara. terdiri dari :

1. Portable system.
2. Fixedsystem.


TUGAS POKOK DAN FUNGSI PENGAWAS KETENAGAKERJAAN DALAM HAL PENGAWASAN DAN PENEGAKKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KETENAGAKERJAAN

  Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya unt...